<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>About Aceh</title>
	<atom:link href="http://eramayawati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eramayawati.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Apr 2010 09:17:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='eramayawati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>About Aceh</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://eramayawati.wordpress.com/osd.xml" title="About Aceh" />
	<atom:link rel='hub' href='http://eramayawati.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cerpen</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2010/04/05/cerpen/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2010/04/05/cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 09:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen rindu yang tak bertepi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[RINDU YANG TAK BERTEPI Suara-suara itu menambah bingar. Ambisi-ambisi mereka mengoyak nurani dan menutup mata hati. Telinga mereka pekak oleh suara-suara mereka sendiri sehingga tak mampu mendengar jerit lirih dari hati yang dilanda prahara. Aku seperti tak mengenal mereka. Mereka seakan berubah menjadi monster bertanduk yang mengerikan sehingga aku harus bersembunyi tanpa suara agar tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=68&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RINDU YANG TAK BERTEPI</strong></p>
<p>Suara-suara itu menambah bingar. Ambisi-ambisi mereka mengoyak nurani dan menutup mata hati. Telinga mereka pekak oleh suara-suara mereka sendiri sehingga tak mampu mendengar jerit lirih dari hati yang dilanda prahara. Aku seperti tak mengenal mereka. Mereka seakan berubah menjadi monster bertanduk yang mengerikan sehingga aku harus bersembunyi tanpa suara agar tak dimangsanya.</p>
<p>“Kalau tidak dibagi sekarang, nanti hartanya habis. Jangan lupa sepeda motor dan mobilnya juga,” Itu suara Kakek yang penuh semangat menghitung harta peninggalan Abah.</p>
<p>“Mobil itu untuk bayar hutang, Pak!” ujar Bunda, ada gejolak dalam dadanya.</p>
<p>“Bayar hutang nanti setelah harta warisan dibagi,” ketus Kakek.</p>
<p>“Iya, sekarang hartanya dibagi saja semua. Sepertinya hutang itu pun hanya rekayasa,” tambah Nenek. Yang lain mulai kasak-kusuk.</p>
<p>Apa pula itu? Mengapa mereka meributkan harta? Kasihan Bunda, sedang berduka malah ditambah lagi bebannya. Mulut mereka berbuih-buih meributkan harta. Mengapa Kakek seperti ini? Siapa yang mengomporinya?</p>
<p>“Hitung saja semua perabotan yang ada! Hitung ada berapa lemari, meja, piring, dan gelas-gelas, jangan ada yang ketinggalan!” Gelegar emosi membuat Bunda berbicara lantang. Ada tetesan air mata yang melewati wajah tirusnya.</p>
<p>“Tidak baik ribut sesama keluarga. Sebaiknya kita selesaikan secara kekeluargaan,” <em>ureueng tuha gampong</em><a href="#_ftn1">[1]</a> menegahi.</p>
<p>Harta peninggalan Abah dibagi menurut hukum Islam. Tega sekali mereka, padahal belum ada kepastian tentang Abah. Abah diculik oleh orang tak dikenal. Tak ada kepastian apakah Abah masih hidup atau telah tiada. Walaupun semua orang tahu bahwa mangsa yang telah diterkam harimau tidak akan dilepaskan lagi, apakah pantas mereka menuntut pembagian harta warisan di saat kami masih dirundung duka? Mematahkan harapanku, anak sepuluh tahun yang tak berdaya ini. Aku masih berharap, berharap Abah kembali. Seperti orang-orang yang lalu-lalang di depanku saat aku bermain untuk menghibur diri sendiri, mereka memberiku harapan.</p>
<p>“Jangan sedih ya, Nak! Abah pasti kembali.”</p>
<p>Tapi semua tak ada artinya. Mereka memberiku harapan kosong.</p>
<p>Hasil keputusan <em>ureueng tuha gampong</em> menyatakan bahwa mobil chevrolet milik kami dijual untuk melunasi hutang-hutang Abah. Saat hari kejadian, Abah pergi dengan mobil chevroletnya bersama Bang Ali. Beberapa hari kemudian, mobil itu ditemukan di simpang empat dalam rupa yang telah dimodifikasi oleh para pelaku penculikan. Katanya mobil itu dikembalikan karena kami mengaji Yasin setiap malam setelah kejadian itu. Mobil itu dilumuri cat warna merah, menyamarkan warna dasar. Daun-daun berserakan di bak belakang. Saat melihat tumpahan cat merah di antara daun-daun itu, Bunda menangis histeris.</p>
<p>“Daraahh….hu…hu..”</p>
<p>“Tenang, Bu! Itu bukan darah, cuma cat,” salah seorang dari polisi-polisi itu menenangkan Bunda.</p>
<p>Bunda shock. Mengira tumpahan cat itu adalah darah Abah saat dibunuh. Badannya lemas.</p>
<p>Malam itu aku terduduk lesu di atas ranjang kecil di samping ranjang Bunda dan Abah. Keringat dingin membasahi kulit. Napas tersengal-sengal seperti habis lari dikejar anjing gila. Mimpi buruk itu datang lagi. Mimpi Abah dibawa oleh orang-orang yang tak kukenal. Meski aku menjerit-jerit dan memohon agar mereka melepaskan Abah, mereka tak menghiraukan. Mimpi itu telah datang berulang kali. Mimpi itu bukan hanya datang dalam tidurku, tapi juga menghantui Bunda. Pernah aku tersentak dari tidurku ketika mendengar jeritan Bunda yang ternyata mimpi buruk, mimpi sepertiku.</p>
<p>Aku beranjak dari ranjangku, naik ke tempat tidur Abah, lalu tidur di sisi Abah. Dan Abah akan memelukku setiap kali aku ketakutan karena mimpi buruk itu. Memeluk gadis kecilnya yang manja dengan segenap kasih yang dimilikinya.</p>
<p>Mimpi itu datang di malam-malam menjelang kepergian Abah. Mungkin sebagai suatu pertanda. Tak hanya itu, perilaku Abah pun tampak tak wajar, berbeda dari biasanya. Bunda sering memergoki Abah termenung malam-malam di dalam mobil di garasi sambil menghabiskan berbatang-batang rokok, padahal Abah bukan seorang perokok. Bahkan, kadang-kadang sampai tertidur di dalam mobil. Firasat telah memperingati kami di hari-hari menjelang kejadian itu, tapi terabaikan karena mengira semua itu akibat rasa takut yang bersemanyam di hati terhadap teror konflik.</p>
<p>Awal elegi terjadi di bulan Oktober, saat manusia-manusia berkepala serigala membawa Abah pergi untuk selamanya. Apa salah Abah? Karena ia memakai seragam coklat yang dianggap sebagai musuh yang harus dibasmi? Inilah awal nelangsa yang tiada bertepi.</p>
<p>***</p>
<p>“Kak, ambil mobilnya cepat, mau kena tanah tuh!” kata Agam, adik laki-lakiku.</p>
<p>Dengan cepat kutangkap mobil baterai itu sebelum menyentuh tanah.</p>
<p>“Tripleksnya kecil sekali, sebentar-sebentar mobilnya harus ditangkap,” protesku.</p>
<p>“Nanti kalau sudah punya uang Bunda buat lantainya, ya?” tambah adikku.</p>
<p>Bunda yang sedang menyuapi Meutia, adikku yang masih empat tahun menjawab datar, “Iya”. Pandangan matanya hampa.</p>
<p>Gubuk kecil beratap rumbia, berdinding <em>teupah<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em> dan berlantai tanah itulah hunian yang melindungi kami dari teriknya matahari dan dinginnya hujan. Rumah peninggalan Abah terpaksa ditinggalkan demi mencari tempat yang lebih aman.</p>
<p>Aku sibuk bermain mobil-mobilan bersama adikku, si kecil Meutia ikut bermain sambil disuapi nasi oleh Bunda. Mobil-mobilan yang dibeli Abah itu melaju di atas tripleks yang kami jadikan alas bermain. Saat tak sengaja mataku menangkap sorot mata Bunda, kulihat ada sendu dalam bola matanya, ada butiran air mata yang tertahan di pelupuk matanya.</p>
<p>Entah mengapa hari ini matahari terlalu semangat bersinar. Butiran-butiran peluh merembes dari pori-poriku. Wuih…panasnya.</p>
<p>“Capek, Bunda. Istirahat dulu, ya?” keluhnya.</p>
<p>Bunda masih semangat membalik-balik tanah sambil menginjak-nginjaknya agar menyatu sehingga bisa menjadi batu-bata yang bagus.</p>
<p>“Tadi baru istirahat, kok istirahat sebentar-sebentar?”</p>
<p>Aku menghela napas. Heran kulihat Bunda yang tidak lelah-lelah dari tadi, meski bajunya telah basah oleh keringat. Bunda memang wonderwoman. Perempuan yang telah ditempa untuk bekerja keras dari kecil. Aku sih payah, lemah, tidak mewarisi jiwa pekerja keras seperti Bunda dan Abah. Tapi aku kan aku masih SMP, tubuh kurusku tak memberiku banyak tenaga untuk kerja keras. Ah…kurasa tak bisa dijadikan alasan. Bunda juga kurus, tapi sanggup memikul beban berat menjadi seorang ibu sekaligus Ayah. Kurasa Bunda mewarisi semangat Cut Nyak Dien.</p>
<p>Gaji Abah yang tidak bisa diterima selama beberapa waktu ini membuat Bunda harus bekerja keras membanting tulang. Bunda bekerja membuat batu-bata, pergi ke sawah, dan berjualan di sekolahan. Aku dan adikku hanya sedikit membantu. Jiwa kami masih jiwa anak-anak. Jiwa yang merindukan belaian seorang ayah. Aku jalani hari-hari dalam penantian yang tak berujung. Sesak kutahan rindu yang tak bertepi.</p>
<p>Suatu malam, aku mendapati diriku masih tidur di ranjang dengan air mata yang berlinang. Aku baru terjaga dari tidur, tersadar dari mimpi yang membuatku menangis. Aku bermimpi Abah mengajak aku, Bunda dan adik-adikku jalan-jalan. Setelah puas jalan-jalan, Abah mengatakan harus pergi. Aku tidak ingin Abah pergi. Aku memanggil-manggil Abah sambil menangis. Gara-gara mimpi itu aku menangis dalam tidur. Hari-hari berikutnya, mimpi seperti itu sesekali datang kembali dalam tidurku, dan aku selalu mendapati diriku sudah berlinang air mata saat terbangun</p>
<p>Bias cahaya senja menjadikan langit lazuardi berbalut jingga. Bermandikan cahaya. Langit senja yang memayungi tanah rencong semerah darah, bak lukisan yang dilukis dengan tinta darah insan yang tumpah darahnya. Bau amis darah tercium dari tanah yang menguburkan jenazah-jenazah yang teraniaya. Tak terhitung berapa banyak senja yang telah terlewati tanpa Abah. Tak ada lagi canda di beranda rumah bersama Abah. Saat aku masuk SMA, Bunda memutuskan untuk kembali menempati rumah peninggalan Abah, meninggalkan gubuk reot yang selama ini kami huni.</p>
<p>Di hadapanku, berdiri laki-laki yang saat itu menghilang bersama Abah.</p>
<p>“<em>Hana loeng teupu sapu iloeng. Mata kamoe mandua ji toep ngon ija itam<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em>,” Bang Ali berkelit ketika ditanyai tentang peristiwa itu dan kemana Abah dibawa.</p>
<p>Berbeda nasib dengan Abah, suatu hari Bang Ali pulang ke rumahnya dalam kondisi sehat wal afiat setelah sekian lama menghilang bersama Abah. Namun, ia selalu menghindar setiap kali kami menanyai keberadaan Abah.</p>
<p>Senja itu, kesekian kalinya Bunda bertanya pada bang Ali. Bang Ali masih bungkam. Tak ada gunanya terus mengharap jawaban laki-laki paruh baya itu. Hanya menambah perih luka di hati. Maka senja itulah terakhir kalinya Bunda bertanya.</p>
<p>***</p>
<p>Masa kecilku berlalu bersama waktu yang terus bergulir. Usiaku beranjak dua puluh tahun. Kasih sayang yang terenggut dariku membuat aku tak rela melepaskan masa kecil yang tak lengkap itu, seperti puzzle yang belum sempurna. Ada yang hilang. Jiwaku terbelenggu. Suaraku kelu. Mulai saat itu aku lebih banyak membisu. Menangis dalam diam. Berteriak dalam diam. Memaki-maki tanpa suara. Bayangan anak berumur sepuluh tahun yang bermata sendu itu masih membayangiku. Jiwa masa kecil yang terbelenggu dalam raga yang telah dewasa.</p>
<p>Aku membisu. Memendam duka yang menyayat hatiku. Masa kecilku telah direnggut tragis. Aku tak ingin katakan apa-apa. Aku hanya ingin diam. Mengutuk pembunuh itu sepanjang waktu.</p>
<p>Mungkin tak banyak yang menyangka bahwa di balik sifat pendiamku tersimpan sifat yang keras. Aku seperti gunung merapi yang bisa meledakkan lahar emosi. Diam-diam menghanyutkan, begitu kata teman-temanku. Hanya orang-orang yang dekat denganku yang tahu bagaimana keras kepalanya aku, apalagi jika terusik. Aku siap menjadi semut yang tak segan-segan menggigit jika terinjak.</p>
<p>Kuperhatikan kalender tahun 1999, tahun Abah pergi, yang tercantel di dinding ruang keluarga. Kalender itu bergambar anak-anak pergi mengaji.</p>
<p>“Biarkan kalender itu tetap di sana,” kata Bunda ketika kutanya apakah kalender itu perlu disingkirkan. Kalender itu tampak usang. Ia menjadi bukti sejarah kehidupan keluargaku.</p>
<p>Badai yang menghempas keluargaku belum berakhir. Kulihat Bunda mulai rapuh. Pertahanan egonya mulai bobol. Kesabaran kadang-kadang terkikis. Bunda sering marah-marah, itu yang kurasakan, itu yang juga dirasakan kedua adikku. Mungkin salah kami juga, sukar diatur. Mengatur anak-anak yang telah dewasa tentunya lebih sulit daripada mengatur anak kecil. Atau mungkinkah sisi keibuannya tersaput ketegasan yang harus dimiliki seorang ayah? Sementara aku, emosiku labil. Sedikit dimarahi aku langsung sedih. Seringkali aku diam-diam menangis sendiri. Seringkali aku merasa menjadi beban orang lain, tak berarti, tak ada yang peduli padaku. Aku tersungkur, lalu berusaha bangkit lagi. Jatuh bangun.</p>
<p>Seharusnya aku bisa mengerti kondisi keluargaku, memahami Bunda yang harus memikul semua beban di pundaknya. Semua itu pasti sangat berat. Tapi aku tak punya kekuatan. Aku tak setegar batu karang. Aku rapuh.</p>
<p>Tempat apa ini? Asing sekali bagiku. Sekelilingnya putih. Tak ada warna hijau daun-daun atau warna-warni bunga. Hanya ada satu warna. Putih.</p>
<p>“Ayo, ikut aku!” kulihat makhluk yang berbicara denganku itu, ia mengerikan, bertanduk, wajahnya bengis.</p>
<p>“Ikut kemana?” tanyaku bingung.</p>
<p>“Ikut ke tempat Abah. Tak seharusnya kamu tetap di dunia. Tidak ada lagi yang peduli padamu,” kata makhluk itu.</p>
<p>Hatiku teriris. Benarkah tak ada lagi yang peduli padaku? Ia menarik tanganku, memaksaku mengikutinya menuju cahaya di ujung lorong. Dengan hati gamang kuikuti langkahnya. Tapi tiba-tiba aku tersentak. Makhluk itu adalah setan. Untuk apa kuturuti perkataannya?</p>
<p>“Aku tidak mau ikut,” Kulepaskan tanganku dari cengkramannya.</p>
<p>“Kamu harus ikut,” Ia memaksaku.</p>
<p>Aku berpaling membelakanginya. Aku harus keluar dari sini. Ia menarik badanku. Tawanya berderai. Seringai tawanya mengerikan. Susah payah aku berusaha melepaskan diri. Aku berdoa pada Allah. Kubaca ta’awudz, basmalah, ayat kursi dan entah ayat-ayat apa lagi. Mulutku komat-kamit memohon pertolongan Allah. Alhamdulillah aku berhasil lepas dari setan itu.</p>
<p>Aku tersentak dari tidurku. Aku bermimpi. Mimpi buruk yang sangat menakutkan. Setan berusaha menjerumuskanku. Apa jadinya kalau aku menuruti perkataannya?</p>
<p>Malam berselimut kabut memelukku lagi. Kesekian kalinya aku mendapati air mataku mengalir saat tersadar dari tidurku. Aku bukan mimpi bertemu Abah, sudah lama bayang Abah tak menemuiku lagi dalam mimpi. Malam ini mimpi yang lebih menyakitkan mengusik malamku. Aku bermimpi dimarahi Bunda, dikatai dengan kata-kata yang menyakitkan. Aku menangis, menangis di alam bawah sadar, menangis di alam sadar. Sudah sering kali mimpi itu mengusik malamku.</p>
<p>Aku teringat mimpi tentang Abah, mimpi saat Abah dibawa oleh orang tak dikenal, mimpi tentang setan yang ingin membawaku ke tempat Abah, dan mimpi dimarahi Bunda. Bayangan itu silih berganti berkelebat dalam pikiranku. Aku teringat kalender tahun 1999 yang masih tertempel di tempatnya dulu. Waktu telah jauh berjalan. Mengapa bayang-bayang semu masa lalu terus menghantuiku? Kesepakatan damai yang dielu-elukan telah terwujud. Damai itu telah tertera di atas lembaran kertas, tapi mengapa damai tak mampu menyentuh hatiku?</p>
<p>Aku lelah dengan semua ini. Air mata terus mengalir. Aku tersedu-sedu. Sampai kapan aku bisa bertahan?</p>
<p>Sekian</p>
<p>(Dimuat di majalah Potret edisi 28)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Ureueng tuha gampong</em> : Orang tua kampung, yang mengurusi masalah-masalah yang terjadi di kampungnya</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Teupah</em> : Dinding gubuk yang terbuat dari bambu yang dibelah kecil-kecil dan kemudian dianyam</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Hana loeng teupu sapu iloeng. Mata kamoe mandua  ji toep ngon ija itam </em>: Saya tidak tahu apa-apa. Mata kami berdua ditutup dengan kain hitam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=68&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2010/04/05/cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kado Istimewa Untuk Indonesia Tercinta</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/08/24/kado-istimewa-untuk-indonesia-tercinta/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/08/24/kado-istimewa-untuk-indonesia-tercinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 00:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Kado Istimewa Untuk Indonesia Tercinta Enam puluh empat tahun sudah berlalu sejak Indonesia lepas dari jeratan penjajah. Kupikir-pikir apa yang bisa kuberikan untuk tanah airku ini sebagai rasa cintaku? Memang http://blog.propertykita.com/competitiontak mesti angkat senjata melawan penjajah di zaman sekarang ini, tak mesti jadi polisi, tentara, atau presiden untuk membuktikan bahwa kita cinta Indonesia. Siapapun bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=62&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Kado Istimewa Untuk Indonesia Tercinta</strong></p>
<p>Enam puluh empat tahun sudah berlalu sejak Indonesia lepas dari  jeratan penjajah. Kupikir-pikir apa yang bisa kuberikan untuk tanah airku ini sebagai rasa cintaku? Memang http://blog.propertykita.com/competitiontak mesti angkat senjata melawan penjajah di zaman sekarang ini, tak mesti jadi polisi, tentara, atau presiden untuk membuktikan bahwa kita cinta Indonesia. Siapapun bisa menunjukkan rasa cintanya. Petani, tukang becak, nelayan, mahasiswa, anak sekolah, siapa saja. Dan aku punya sebuah bingkisan untuk Indonesiaku, bingkisan yang membungkus memori-memori dari catatan kehidupanku. Kusebut ia kado istimewa. Kado istimewa untuk Indonesia tercinta.</p>
<p>Bicara tentang kado istimewa mengingatkanku pada sebuah cerpen di kompas yang berjudul “Kado Istimewa”. Cerpen itu mengisahkan tentang seorang wanita yng ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk sahabat lamanya saat sahabatnya itu menggelar pesta di rumahnya. Wanita itu pun memberikan kado yang berisi makanan kesukaan sahabatnya. Sayangnya, beberapa hari kemudian, saat kado itu dibuka isinya telah basi dan menyebarkan bau busuk. Kado istimewanya menjadi tidak ada artinya sama sekali. Aku tidak ingin kado istimewaku bernasib sama seperti di cerpen itu. Aku ingin memberikan kado istimewa yang awet, tahan sepanjang masa.</p>
<p>Ada memoar yang terukir di tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, tanggal 18 Agustus 2009  jalanan dipadati orang-orang yang ingin menyaksikan karnaval. Hiruk-pikuk penonton ditambah dengan suara drum band menambah semarak suasana. Jalanan macet. Sebelumnya sempat turun hujan, tapi ternyata hujan tak menghalangi mereka untuk tetap berpartisipsi. Termasuk aku. Di antara ribuan penonton lainnya, aku melihat iring-iringan perayaan hari kemerdekaan. Meski cuaca mendung, bedesak-desakkan dengan penonton lain tetap saja terasa gerah dan berkeringat.</p>
<p>“Di sini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang…..” rombongan anak TK begitu cerianya menyanyikan lagu.</p>
<p>Melihat bocah-bocah kecil itu membuat ingatanku kembali ke masa lima belas tahun lalu, saat aku masih TK. Mungkin saat itu aku sama imutnya dengan mereka dalam balutan pakaian adat Aceh. Kuarungi ruang waktu, terbang melintasi tahun demi tahun dan kembali ke tahun-tahun dimana aku mengumpulkan mozaik untuk kuisi ke dalam kado istimewaku. Saat kubuka album biru yang berisi foto-foto kenangan keluargaku, kudapati dua lembar fotoku saat ikut karnaval di TK. Aku tampak seperti pengantin kecil yang cantik dalam balutan pakaian adat Aceh berwarna ungu yang celana dan bajunya kepanjangan. Halaman selanjutnya kulihat selembar foto adik laki-lakiku yang juga berpakaian adat Aceh dengan celana dan baju yang kepanjangan, serta topi yang kebesaran. Foto itu adalah foto saat ia ikut karnaval sewaktu TK. Saat adikku ikut karnaval di TK, aku ikut mendampinginya karena mobil kami disewa untuk acara karnaval sehingga aku bisa duduk di depan bersama adik dan ayahku.</p>
<p>Saat TK itulah pertama kalinya aku ikut karnaval. Kisah pertama yang dapat kumsukkan ke dalam kado istimewaku, yang menunjukkan bahwa bocah kecil pun begitu riang menyambut tujuh belas Agustus. Sepulang dari acara karnaval, jalan padat sekali oleh kendaraan. Polisi sibuk mengatur kendaraan yang lewat. Kulihat seseorang yang terluka parah akibat kecelakaan dibaringkan di atas mobil pick up dan dilarikan ke rumah sakit. Aku bergidik ngeri. Kubaca spanduk-spanduk yang dipasang di alun-alun kota. Salah satu spanduk bertuliskan, “ Tidak sejengkal tanah pun kita lepas dari NKRI”. Mungkin kalimat itu sesuai untuk Aceh, mengingat dulu Aceh pernah ingin melepaskan diri dari NKRI.</p>
<p>Karnaval kedua kali yang kuikuti sekaligus yang terakhir kalinya adalah saat aku kelas satu SMA. Aku berpasangan dengan Akbar, siswa yang paling gemuk di kelas kami. Aku dan Akbar adalah pasangan yang paling unik dan menonjol. Bagaimana tidak? Aku yang kurus berpasangan dengan Akbar yang sangat gemuk. Jauh dari cocok. Sangat berbeda. Sebenarnya guru sudah memilih pasangan yang cocok denganku, tapi karena temanku minta ganti pasangan jadilah aku yang berpasangan dengan Akbar. Kami memakai pakaian Bali modern.</p>
<p>Penampilanku sangat simpel. Aku memakai salah satu baju Bunda yang kira-kira cocok dengan pakaian Bali modern. Wajahku dipoles sedikit, tapi lipstiknya agak tebal sehingga bibirku merah sekali. Rambutku disasak. Sesaat sebelum di make up, HP-ku berdering. Ada sms yang mengatakan aku menang undian Telkomsel senilai sepuluh juta. Aku diminta mengirimkan uang untuk biaya pengiriman. Aku gembira sekali karena mengira benar-benar menang undian. Aku yang baru memiliki HP belum berpengalaman dengan penipuan lewat HP seperti itu. Karena curiga, Bunda menyuruhku  menghubungi Oomku untuk menanyakan tentang masalah itu. Dari dua Om yang kuhubungi, tahulah aku bahwa sms itu hanya penipuan. Untunglah aku tidak masuk dalam perangkap penipu itu. Hampir saja cincin emas yang melingkar di jariku dijual untuk biaya pengiriman yang diminta. Hampir saja aku tidak jadi ikut karnaval karena harus mengurus masalah transfer uang yang hanya diberi waktu sehari.</p>
<p>Gara-gara sms penipuan yang mengatasnamakan Telkomsel itu, aku jadi terlambat sampai ke lapangan tempat semua peserta berkumpul. Aku linglung mencari teman-temanku. Untung saja aku menemukan salah seorang temanku yang sedang mondar-mandir, lalu ia mengantarkanku ke barisan kami. Aku terlalu terburu-buru sampai-sampai tidak sempat lagi mengambil bunga untuk diselipkan di rambutku. Jadinya kepalaku polos tanpa hiasan.</p>
<p>Aku berjalan beriringan dengan pasanganku, Akbar, dalam barisan sekolah kami. Kami menjadi pusat perhatian penonton. Sepanjang perjalanan mata orang-orang tertuju pada kami dan membicarakan kami.</p>
<p>“Hei, lihat pasangan itu! gemuk sekali yang cowoknya, ceweknya kurus,” kutangkap suara yang menggema di antara penonton.</p>
<p>“Haaaa..Haaaa…” mereka cekikikan.</p>
<p>Meski agak risih, aku berusaha tetap berjalan dengan penuh percaya diri. Kucoba tidak mengindahkan kata-kata orang. Matahari bersinar terik. Keringat membasahi tubuhku. Kakiku mulai sakit karena terlalu jauh jalan kaki. Sandalku pun keras sekali sehingga kakiku lecet dan perih sekali. Kupaksakan tetap berjalan. Kupikir toh ini masih lumanyan mengingat dulu saat Bunda drum band untuk karnaval tujuh belas Agustus harus memakai baju pinjaman dan berjalan terseok-seok dengan sepatunya yang telah rusak. Demi ikut drum band Bunda rela berjalan dengan menyeret kakinya agar sepatunya yang telah rusak itu tidak lepas.</p>
<p>Menyebut nama Akbar mengingatkanku pada kenangan kami dengan salah seorang guru PPL. Bu Rahmi, guru PPL itu, adalah guru yang ramah dan baik. Kami semua meyukainya. Suatu hari, Bu Rahmi pamitan pada kami karena masa PPL-nya sudah habis. Spontan saja Akbar menyanyikan lagu Hymne Guru tanpa dikomando. Ia berinisiatif sendiri tanpa kami rencanakan sebelumnya.</p>
<p>“Terpujilah wahai engkau….”</p>
<p>Kami sekelas ikut menyanyikan lagu Hymne Guru bersama-sama.Menciptakan koor yang merdu.</p>
<p>“Ibu Bapak Guru, namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku….”</p>
<p>Nyanyian itu diseligi oleh suara Aton yang pintar musikalisasi puisi. Bu Rahmi menitikkan air mata mendengar nyanyian kami. Ia mengaku belum pernah merasa diperlakukan dengan begitu istimewa oleh anak didiknya seperti yang kami lakukan. Kami senang bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk guru yang telah berjasa memberikan ilmu kepada kami. Kado istimewa kami untuk guru tercinta, meski sederhana tapi ternyata bermakna bagi yang menerimanya.</p>
<p>Ada lagi penggalan mozaik saat aku masih SD. Adik Bunda yang kupanggil Acut —panggilan untuk Oom yang bungsu — menghibur aku dan adikku di hari perayaan HUT RI dengan membuatku kami bendera merah putih dari kertas layang-layang. Acut kasihan melihat kami yang masih dirundung duka karena Ayah kami telah tiada akibat konflik di Aceh. Lucunya, bendera buatan Acut untukku terbalik, jadi putih merah. “Wah! Benderanya terbalik, jadi putih merah. Acut buat lain saja,” kata Acut sambil tertawa, aku pun ikut tertawa. Mungkinkah hari itu ia juga ingin memberikan kado istimewa untuk kami agar tidak bersedih hati di hari perayaan HUT RI? Desember 2004, Acut pergi untuk selama-lamanya akibat tsunami. Tinggallah sejuta kenangan yang ia ukir di hati kami. Siapa lagi yang akan menghibur dan mewarnai hari tujuh belas Agustus kami dengan kado istimewa?</p>
<p>Ada banyak kisah yang membuatku terenyuh jika mengenangnya. Ada banyak hal yang ingin kupersembahkan untuk tanah airku dan kuyakin ada banyak orang yang ingin melakukannya. Setiap orang pasti ingin memberikan sesuatu yang istimewa. Keistimewaan itu lahir bukan dari nilai materialnya, tapi dari niat yang tulus. Sesuatu yang diberikan dengan ketulusan pasti akan jadi istimewa. Semua catatan kehidupan tentang aku dan negeriku akan menjadi kado istimewaku untuk Indonesia tercinta. Masih banyak kado istimewa yang telah dipersembahkan rakyat Indonesia untuk negerinya dan akan ada lebih banyak lagi kado istimewa.</p>
<p>SEKIAN</p>
<p><img class="alignnone" title="Banner" src="http://blogger.telkomselcommunity.cc/wp-content/gallery/logo/bannerhutri400px.png" alt="" width="400" height="90" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=62&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/08/24/kado-istimewa-untuk-indonesia-tercinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blogger.telkomselcommunity.cc/wp-content/gallery/logo/bannerhutri400px.png" medium="image">
			<media:title type="html">Banner</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PropertyKita.com Blogging Competition ‘09</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/08/06/propertykita-com-blogging-competition-%e2%80%9809/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/08/06/propertykita-com-blogging-competition-%e2%80%9809/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 16:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[PropertyKita.com Blogging Competition ‘09]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Rumah Impianku Di atas tanah seluas 12&#215;23 m berdiri sebuah rumah berukuran 8&#215;12 m. Rumah itu tampak renta dimakan masa. Mungkin karena usianya yang telah beranjak tiga belas tahun. Itulah rumahku, rumah yang aku tinggali sejak berusia tujuh tahun. Di rumah itulah suka duka terukir. Rumah itu tak banyak berubah semenjak ditinggalkan Ayah, berubah dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=52&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a title="Rumah Impianku" href="http://blog.propertykita.com/competition"><strong>Rumah Impianku</strong></a></p>
<p>Di atas tanah seluas 12&#215;23 m berdiri sebuah rumah berukuran 8&#215;12 m. Rumah itu tampak renta dimakan masa. Mungkin karena usianya yang telah beranjak tiga belas tahun. Itulah rumahku, rumah yang aku tinggali sejak berusia tujuh tahun. Di rumah itulah suka duka terukir. Rumah itu tak banyak berubah semenjak ditinggalkan Ayah, berubah dalam arti menjadi lebih bagus, bahkan justru semakin renta. Sepuluh tahun yang lalu, Ayah meninggal saat konflik yang berkepanjangan di tanah kelahiranku, Aceh. Sebenarnya tak pantas juga disebut meninggal karena Ayah diculik dan sampai sekarang tidak ada kabar beritanya. Entah dimana Ayah sekarang. Kami semua terpaksa menerima kenyataan bahwa Ayah memang telah tiada. Orang-orang yang menjadi korban penculikan selalu bernasib sama, tak pernah kembali atau ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan tubuh penuh luka.<br />
Baru tiga tahun kami tinggal di rumah sendiri, tragedi itu datang. Sebelumnya kami tinggal di rumah nenek dan kemudian pindah ke rumah sewa. Setelah Ayah tiada, kami sekeluarga pindah lagi ke rumah nenek dan sempat tinggal di gubuk beberapa lama. Kehidupan yang cukup memprihatinkan. Saat aku masuk SMA, barulah kami kembali ke rumah yang penuh kenangan itu.<br />
Rumahku memang tidak termasuk kecil, lumanyan besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Namun, banyak hal yang belum sempurna dari rumahku. Saat bersantai di malam hari, kami dikerumuni nyamuk-nyamuk yang leluasa masuk karena rumah kami tidak memiliki loteng. Kita bisa melihat kayu-kayu besar penyangga atap jika kita menengadahkan wajah ke langit-langit rumah. Sesuatu yang sangat kentara terlihat dari luar adalah rumah tersebut belum dicat, bahkan di bagian depan masih terlihat batu bata. Sangat merusak estetika rumah.<br />
Rumahku memiliki empat kamar, tapi yamg dipakai untuk tidur hanya dua kamar. Satu kamar kosong dijadikan ruang komputer dan satu kamar lagi jadi gudang karena tidak terurus. Kami hanya memiliki satu kamar mandi yang menjadi rebutan setiap tiba waktu sekolah. Kamar mandi satu lagi masih dalam tahap pembangunan, sudah lima tahun tidak selesai-selesai karena ulah tukang yang tidak bertanggung jawab. Begitu pula dengan garasi yang direnovasi menjadi dapur, belum selesai juga padahal sudah mulai direnovasi lima tahun yang lalu. Jadi, dapur terpaksa digabung dengan ruang makan. Tukang yang diberi kepercayaan untuk merenovasi rumahku bagaikan lintah darat, ia terus-terusan meminta uang pada kami dengan dalih sebagai upahnya, sementara tugasnya tak pernah ia selesaikan. Kamar mandi, dapur, dan pagar rumah yang menjadi tanggungannya ia tinggalkan begitu saja setelah berhasil mendapatkan uang yang justru lebih dari upah yang seharusnya. Semoga tuhan membalas perbuatannya.<br />
Setiap sendi-sendi rumah seakan mengatakan bahwa ia telah terlalu lelah dan renta. Tanpa perawatan yang memadai akibat kurangnya dana dan waktu, rumah menjadi terlihat lebih tua dari usianya. Bunda yang harus menjadi ibu sekaligus ayah sudah terlalu sibuk, hanya secuil waktu yang tersisa untuk memberikan perhatian pada rumah. Sedangkan aku, sudah menjadi mahasiswa di negeri rantau. Hanya saat liburan aku pulang ke rumahku di kampung halaman. Bunda tinggal bersama dua orang adikku. Seakan berontak untuk mendapatkan perhatian, satu persatu bagian rumah rusak. Seng bocor, air hujan menetes membasahi lantai yang dihiasi keramik putih setiap kali hujan turun. Pintu rusak, ada yang tidak bisa dikunci dari luar, gagangnya patah, bahkan daun pintu kamar copot dari tempatnya. Jeruji jendela satu persatu dimakan rayap. Kusen  pintu dan jendela juga tak luput menjadi santapan rayap. Mungkinkah kayu yang dipakai kurang bagus? Terpaksa satu persatu diganti dan diperbaiki sesuai dana yang dimiliki. Jendela rumahku dihiasi gorden yang berwarna merah jambu yang telah berusia tiga belas tahun. Gorden usang itu selalu menempel di jendela, tak pernah diganti meskipun lebaran—kecuali saat dicuci kalau kotor—karena hanya itulah satu-satunya gorden yang kami miliki.<br />
Di halaman rumahku tumbuh berbagai macam pohon. Ada rambutan, mangga, nenas, serta berbagai jenis sayuran dan bumbu untuk memasak, seperti terong, singkong, kangkung, cabe kecil, jeruk purut, kunyit, dan pakis. Di samping rumah ada pohon pisang, belimbing, pepaya, melinjo, pinang, ketela, dan beberapa jenis sayur-mayur lainnya. Selain itu, ada juga beberapa jenis bunga yang menghiasi rumahku. Rasanya komplit sekali tumbuhan di pekarangan rumahku. Rindang pohon membuatku betah bersantai di atas ayunan di bawah pohon rambutan. Semilir angin yang berembus membawa aroma sawah yang khas. Dari ayunan aku bisa memandang hamparan sawah yang menghijau di depan rumahku, pegunungan nan jauh di selatan, dan deretan pohon kelapa di utara. Udaranya segar dan menyejukkan.<br />
Dulu aku tidak pernah berpikir bagaimana rumah impianku. Yang penting bagiku adalah aku punya rumah yang bisa menaungiku dari terik matahari dan dinginnya hujan. Namun, seiring dengan bergulirnya waktu dan aku semakin beranjak dewasa, aku mulai menyadari arti sebuah rumah. Rumah bukan hanya sebuah bangunan yang menaungi kita, tapi juga berfungsi untuk menciptakan ketenangan dan kedamaian. Rumah yang nyaman pasti akan menciptakan perasaan tenang dan tentram bagi penghuninya. Di rumahlah benih kebahagiaan mulai tumbuh. “Rumahku, istanaku” memang benar adanya. Karena itu, aku mulai mendesain arsitektur rumah impianku di memoriku.<br />
Aku memang sering takjub ketika melihat rumah megah bak istana, tapi bukan begitu rumah impianku. Rumahku tak perlu besar, tak perlu bertingkat hingga menjulang langit. Cukup tiga kamar. Kubuka memori tentang profil rumah impianku yang telah kurancang di lobus otakku. Rumah impianku dilengkapi pagar agar privasi tidak terusik dan bercat kombinasi warna-warna cerah, seperti biru laut dan pink. Karena aku hobi membaca dan menulis, aku ingin memiliki satu ruang khusus untuk perpustakaan, dimana aku bisa meletakkan rak-rak yang dipenuhi buku-buku dan satu perangkat komputer. Di dekat ruang tamu, ada ruang keluarga atau ruang nonton yang bisa dipergunakan untuk bersantai bersama keluarga. Lalu, di tempat yang kurasa terhindar dari bising, ingin kubuatkan sebuah tempat untuk shalat sehingga bisa shalat dengn khusyu’. Aku tak ingin diusik nyamuk seperti sekarang, karena itu rumahku kelak harus punya loteng. Dapur terpisah dari ruang makan, dilengkapi rak gantung tempat menyimpan peralatan dan bahan-bahan dapur dan dilengkapi washbak. Kamar tidur tidak terlalu sempit untuk meletakkan ranjang, lemari, meja rias, dan meja kecil untuk menaruh pernak-pernik.<br />
Keindahan rumah tak hanya dipandang dari keindahan arsitekturnya, tapi juga sangat ditentukan oleh bagaimana cara menata bagian luarnya. Rumah yang dilengkapi taman tentu lebih indah daripada tanpa taman. Untuk menambah aura pesona rumah impianku, rumahku akan dilengkapi sebuah taman kecil yang akan kutanami bunga kesukaanku. Selain bunga yang kusukai, taman itu juga akan kutanami daun cantik warna-warni seperti puring, keladi atau hanjuang. Tanaman dari daerah tropika ini kelihatannya biasa saja, tapi bila terkena sinar matahari, potensinya sebagai tanaman yang mempercantik taman akan tampak. Di lahan yang sedikit terkena sinar matahari, kutanami daun-daun cantik penutup tanah seperti daun beludru dan lili paris. Daun bertekstur cantik ini dapat berguna sebagai penutup lahan taman atau lahan di bawah teritisan rumah, sehingga menjadi lebih menarik dari pada hanya ditanami rumput saja.<br />
Tak jauh dari taman, ada sebuah sudut santai untuk menghilangkan kejenuhan setelah seharian beraktivitas. Sudut santai ini bisa dibangun dari bambu dan beratap rumbia, menciptakan sensasi menyejukkan dari alam. Mendandani suatu sudut hunian kita, khusus untuk relaksasi, bisa memberikan kenyamanan dan kepuasan tersendiri. Di sini aku bisa bersantai sambil membaca, menulis, mendengarkan musik, memanjakan mata dengan menikmati suasana alam, atau sekedar duduk-duduk menghilangkan penat.<br />
Di dekat sudut santai, kehadiran kolam dengan elemen air mancur menjadi pelengkap eksterior rumah. Airnya jatuh dari tebing layaknya air dari terjun di pegunungan. Kejenuhan dan kelelahan setelah beraktivitas dapat terobati dengan menikmati gemercik air yang berjatuhan, bak nyanyian alam yang mampu meredam kebisingan dan menenangkan jiwa. Ikan hias dilepas dalam kolam agar air menggenang dalam kolam tidak menjadi sarang nyamuk.<br />
Aku ingin membangun rumah yang letaknya strategis. Udaranya tidak tercemar dan pemandangan di sekitarnya masih alami sehingga kesan naturalnya terasa kental. Namun, mewujudkan impian itu tidak tak semudah membayangkannya. Entah kapan impian itu bisa terwujud. Mungkinkah akan terwujud setelah aku menikah nanti? Yah…paling tidak aku punya mimpi. Hidup tanpa mimpi terasa hampa. Tak ada salahnya bermimpi. Seperti yang dikatakan Andrea Hirata, “Bermimpilah, karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Bahkan, Walt Disney, tokoh yang sangat terkenal yang berasal dari keluarga miskin itu, sukses juga karena punya mimpi.<br />
Kupandangi rumah yang kuhuni sekarang. Aku sudah sangat bersyukur memiliki rumah seperti ini. Aku juga bahagia memiliki rumah impian di kepalaku.</p>
<p style="text-align:right;">Sekian</p>
<p>Foto Rumahku di Bagian Depan</p>
<p><img class="size-medium wp-image-56" title="Foto Rumahku di Bagian Depan" src="http://eramayawati.files.wordpress.com/2009/08/s3bz3hn491.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Foto Rumahku di Bagian Depan" width="300" height="225" /></p>
<p>Langit-langit rumahku<img class="aligncenter size-medium wp-image-57" title="Loteng Rumahku" src="http://eramayawati.files.wordpress.com/2009/08/s3bz3hn498.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Loteng Rumahku" width="300" height="225" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=52&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/08/06/propertykita-com-blogging-competition-%e2%80%9809/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://eramayawati.files.wordpress.com/2009/08/s3bz3hn491.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto Rumahku di Bagian Depan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://eramayawati.files.wordpress.com/2009/08/s3bz3hn498.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Loteng Rumahku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Produk Alnect</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/28/review-produk-alnect/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/28/review-produk-alnect/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 12:38:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[UFD A-Data Sport Disney RB18 4GB [Alnect Komputer] Beragam variasi flashdisk telah dilahirkan oleh teknologi yang semakin canggih. Mulai dari flashdisk classic sampai yang unik seperti bentuk Hello Kitty, cumi-cumi, dan Mickey Mouse. Flashdisk mempunyai beberapa macam model, supaya konsumen dapat memilih sesuai dengan seleranya masing-masing. Bagi mereka yang memandang fungsi flashdisk hanya sebagai penyimpan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=42&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="/DOCUME%7E1/SiS/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /><img src="/DOCUME%7E1/SiS/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.jpg" alt="" /></p>
<p><strong>UFD A-Data Sport Disney RB18 4GB [Alnect Komputer]</strong></p>
<p>Beragam variasi flashdisk telah dilahirkan oleh teknologi yang semakin canggih. Mulai dari flashdisk classic sampai yang unik seperti bentuk Hello Kitty, cumi-cumi, dan Mickey Mouse. Flashdisk mempunyai beberapa macam model, supaya konsumen dapat memilih sesuai dengan seleranya masing-masing. Bagi mereka yang memandang fungsi flashdisk hanya sebagai penyimpan data, dapat memilih flashdisk yang bentuknya biasa-biasa saja. Tapi, jika Anda ingin memiliki flashdisk unik yang enak dipandang mata, Anda dapat memilih salah satu produk flashdisk unik yang ditawarkan produsen. UFD A-Data Sport Disney RB18 4GB adalah salah satu contohnya. Flashdisk ini dihiasi oleh tema (theme) dari Disney, Mickey Mouse. Mickey Mouse dari Disney ini tentunya menarik perhatian kalangan pecintanya, sebab tak sedikit orang yang tergila-gila pada karakter Mickey Mouse ini. Selain bentuknya yang unik, flashdisk ini didesain dari bahan karet (rubber) yang melindungi data Anda dari benturan dan lebih tahan terhadap air. Bahan karet (rubber) yang lentur ini akan membuat data Anda lebih aman.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-43" title="FD" src="http://eramayawati.files.wordpress.com/2009/07/fd.jpg?w=280&#038;h=300" alt="FD" width="280" height="300" /></p>
<p><a href="http://www.alnect.net/products.php?/8/29/102/225/Storage_Media/USB_FlashDisk__4GB/A-Data/UFD_A-Data_Sport_Disney_RB18_4GB_">http://www.alnect.net/products.php?/8/29/102/225/Storage_Media/USB_FlashDisk__4GB/A-Data/UFD_A-Data_Sport_Disney_RB18_4GB_</a></p>
<p>UFD A-Data Sport Disney RB18 4GB diproduksi oleh A-Data Technology, sebuah perusahaan yang bergerak sebagai manufaktur memory modul, peripheral USB, serta produk multimedia, didirikan pada Mei 2001. Selain memiliki kelebihan terhadap benturan dan anti air, UFD A-Data Sport Disney RB18 4GB juga memiliki kelebihan lain, yaitu kemampuannya dalam membaca dan menulis yang termasuk cepat jika dibandingkan dengan beberapa flashdisk lainnya. Menurut data spesifikasi, A-Data Sport Disney RB18 memiliki write speed 6.9 MB/Second dan read speed 13.0 MB/Second. Jika dibandingkan dengan A-Data Disney T-801 yang hanya memiliki write speed 4.6 MB/Second  dan read speed 12.7 MB/Second, A-Data Sport Disney RB18-lah yang jadi juara. Tapi, jika dibandingkan dengan A-Data Disney T-807 yang memiliki write speed 5.3 MB/Second  dan read speed 15.1 MB/Second, A-Data Sport Disney RB18 kalah cepat dalam hal membaca.</p>
<p>Jika Anda tertarik dengan produk A-Data yang satu ini, Anda dapat mengunjungi toko online Alnect (<a href="http://www.alnect.net/">http://www.alnect.net</a>). Anda juga dapat melihat beragam flashdisk lainnya atau produk-produk lain yang ditawarkan Alnect. UFD A-Data Sport Disney RB18 4GB dapat Anda peroleh seharga Rp. 190.000. Untuk setiap pembelian flashdisk dengan berat 17 gram dan kapasitas 4GB ini, Anda akan mendapatkan bonus satu tutup kepala cadangan yang unik untuk setiap bundelnya.</p>
<p>Review ini ditulis dalam rangka mengikut<strong>i Alnect Computer Blog Contest Periode I </strong><strong>dengan beragam hadiah menarik. Jika Anda ingin berpartisipasi, silahkan klik gambar berikut.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a href="http://alnect.net/blogcontest/?ref=allamanda_cathartica89@yahoo.com"><img src="http://alnect.net/blogcontest/ticket.php?u=allamanda_cathartica89@yahoo.com" border="0" alt="Alnect computer Blog Contest" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=42&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/28/review-produk-alnect/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/SiS/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/SiS/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://eramayawati.files.wordpress.com/2009/07/fd.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FD</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alnect.net/blogcontest/ticket.php?u=allamanda_cathartica89@yahoo.com" medium="image">
			<media:title type="html">Alnect computer Blog Contest</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ulang Tahun Ke-11 detikcom</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/25/ulang-tahun-ke-11-detikcom/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/25/ulang-tahun-ke-11-detikcom/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 02:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun ke-11 detikcom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Dunia Maya Memori tentang kehidupan di masa lalu masih tersimpan di lobus otakku, tak hilang memang, tapi aku perlu mencari dimana memori itu kuletakkan dan perlu kupilah-pilah dengan jutaan memori lain. Otak itu unik, mampu menyimpan berjuta-juta memori, memori kemarin, tahun lalu, bahkan bertahun-tahun yang lalu. Kucoba mencari-cari sebuah memori tiga tahun lalu di antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=36&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Dunia Maya</strong></p>
<p>Memori tentang kehidupan di masa lalu masih tersimpan di lobus otakku, tak hilang memang, tapi aku perlu mencari dimana memori itu kuletakkan dan perlu kupilah-pilah dengan jutaan memori lain. Otak itu unik, mampu menyimpan berjuta-juta memori, memori kemarin, tahun lalu, bahkan bertahun-tahun yang lalu. Kucoba mencari-cari sebuah memori tiga tahun lalu di antara jutaan memori itu. Dan aku menemukannya. Memori tentang dunia maya, duniaku. Mengapa kukatakan dunia maya adalah duniaku? Hm…karena namaku Maya, lengkapnya Eramayawati. Teman-temanku biasanya memanggilku Era, tapi sewaktu kecil aku dipanggil Maya. Saat terjun ke dunia maya atau menerima telepon dari orang iseng aku sering menggunakan nama Maya. So, tak salah ‘kan jika kusebut duniaku sebagai dunia maya? Ternyata, dunia Maya itu memang lain dari dunia yang kita huni ini. Seperti dunia transparan. Dunia ilusi yang tak dapat dijamah. Yah…namanya juga dunia maya. Surprise juga saat pertama-tama nyebur ke dunia maya, makin asyik saat makin mahir berenang menjelajahi setiap pelosoknya.</p>
<p>Aku pertama kali mengenal internet, nama lain dari dunia maya itu, saat aku kelas tiga SMA. Di penghujung tahun 2006, dalam naungan bulan Desember yang dingin, aku dan dua orang adikku ditinggal oleh Bunda yang pergi ke tanah suci. Bunda adalah satu-satunya orang tua yang masih kami miliki sekarang setelah Ayah meninggal saat konflik berkepanjangan di Aceh tahun 1999. Kami bertiga tinggal di rumah nenek untuk sementara. Suatu hari, aku dan adik laki-lakiku yang kelas tiga SMP pergi ke warnet karena ingin belajar internet. Kami tidak ingin ketinggalan arus perkembangan teknologi yang semakin canggih. Di Bireuen, kota tempatku tinggal, saat itu hanya ada satu warnet. Jeumpa_Net, itulah satu-satunya warnet yang ada di kotaku. Warnet itu berada di lantai dua, pengap, panas, dengan ruang-ruang kecil yang sempit. Karena tidak ada pilihan lain, kami terpaksa menjalankan niat kami di warnet itu. Kami duduk di ruang yang berbeda.</p>
<p>Aku masih buta internet, tak tahu apa-apa, yang kutahu hanya membuka Internet Explorer jika ingin buka internet. Kuklik saja aplikasi itu. Kucoba-coba saja sebisaku. Kupergunakan teknik trial and error karena hanya itu yang aku bisa.</p>
<p>“Bang, tolong lihat bentar dong komputernya, nggak tahu tekan apa lagi nih!” kupanggil operator warnet itu ketika kepalaku sudah blank.</p>
<p>Lalu operator membantuku dan mengajariku sedikit tentang internet.</p>
<p>“Bang…ini apa lagi sih yang keluar?” kuadukan lagi pada operator ketika ada kotak berbahasa Inggris yang muncul di layar komputerku. Maklumlah Bahasa Inggrisku masih rada-rada hancur.</p>
<p>Tanpa mengeluh, operator kembali membantuku.</p>
<p>“Kalau keluar box seperti ini tekan saja OK, ya?” jelas operator.</p>
<p>Aku mengiyakan. Berbekal teknik trial and error, aku berhasil mengenal Google dan Yahoo!. Aku berhasil membuat alamat email tanpa bantuan orang lain. Asyik…sudah ada kemajuan. Eh, sebenarnya bukan seratus persen tanpa bantuan, tapi sedikit dibantu oleh adikku. Kurasa ia lebih banyak tahu dariku.</p>
<p>“Bang, kalau mau chating gimana sih caranya?” kupanggil lagi operator.</p>
<p>Seperti sebelumnya, operator kembali membantuku. Tak tampak gurat kesal di wajahnya, entah ia sembunyikan di balik senyumnya untuk menyenangkan pelanggan. Mungkin dalam hati ia kesal juga dengan pelanggannya yang satu ini, pelanggan yang cerewet.</p>
<p>Aku diajari chating dengan menggunakan MIRC. Rasanya aku seperti sedang belajar les internet dengan operator itu.</p>
<p>“Tunggu dulu selesai loading,” katanya.</p>
<p>Loadingnya lama sekali. Maklumlah warnet satu-satunya….Ada warnet saja sudah Alhamdulillah. Biaya perjamnya pun masih lumanyan mahal, lima ribu rupiah.</p>
<p>Kupergunakan kesempatan saat berada di warnet itu sebaik-baiknya. Kupelajari apa yang belum kutahu, tapi dunia maya itu terlalu luas, tak akan bisa dipelajari semuanya hanya dalam sehari. Dengan bantuan operator dan juga adikku, mataku sedikit lebih terbuka tentang dunia maya alias internet. Ternyata di balik layar monitor itu ada dunia lain yang colourfull dan penuh petualangan. Itulah petualangan pertamaku di dunia maya. My first online experience.</p>
<p>Kelas tiga SMA baru mengenal internet, bisa dikatakan cukup ketinggalan. Tapi jika tidak dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya dan atau kota metropolitan, aku tidak terlalu jauh ketinggalan, ada yang jauh tertinggal di belakangku. Buktinya, saat aku mulai bisa internetan, ada juga teman-temanku yang tertarik belajar dariku. Bahkan, sampai sekarang masih ada orang yang sama sekali tidak bisa internet. Itulah kisah sedih di tanah Acehku sayang.</p>
<p>Aku membeli dua buku tentang internet. Kupelajari buku itu di rumah. Dengan membaca buku itu, pengetahuanku tentang internet semakin bertambah. Di sekolah, kuceritakan pengalamanku browsing, chating, dan kirim email pada teman-teman dekatku, Vika dan Icha. Sedikit narsis. Pasalnya, mereka juga belum bisa internet. Jadi iri juga mereka mendengar ceritaku. Mereka memintaku untuk mengajari mereka.</p>
<p>“Bisa kenal sama cowok-cowok keren dong?” canda Vika.</p>
<p>“Yee…cowok-cowok keren aja yang dipikirin,” olokku.</p>
<p>Vika adalah teman sebangkuku, sedangkan Icha duduk di belakangku. Vika, Icha, dan aku sama-sama anak pertama yang keras kepala. Kami mengawali kebandelan dengan keluyuran sepulang les. Biasanya, di hari-hari tertentu dimana ada jadwal les tambahan, aku dan teman-teman sekelasku tidak pulang ke rumah sepulang sekolah, tapi tetap di sekolah karena sebentar lagi akan dilanjutkan dengan jadwal les. Kami salat  di mushalla sekolah dan makan bekal yang kami bawa dari rumah. Menjelang sore, baru kami pulang. Itulah saatnya kami keluyuran ke warnet. Aku mengajari Vika dan Icha sebatas yang kutahu. Kami duduk bertiga dalam satu ruang. Ruangannya sempit sekali untuk dipakai bertiga, sampai-sampai pintunya tidak bisa ditutup lagi. Operator warnet tersenyum melihat kami berdesakan di ruang yang sempit itu.</p>
<p>“Sempit ya, dek?” tanya operator basa-basi.</p>
<p>“Iya nih, Bang. Sempit sekali. Nanti buat ruangannya lebih gede sedikit lagi, ya!” ketus Vika.</p>
<p>Sebentar saja mereka sudah keranjingan chating, sepertiku di hari pertama bisa chating.</p>
<p>“Wah! Umurnya tiga puluh dua tahun, nggak jadi ah, sudah om-om,” seloroh Vika ketika tahu salah seorang teman chatingnya sudah berumur tiga puluh dua.</p>
<p>“Emangnya mau cari jodoh?” sambung Icha.</p>
<p>“Siapa tahu ada yang bisa digebet jadi pacar, hi…hi…just kidding,” ujar Vika yang selalu bikin ramai suasana.</p>
<p>Omongan anak SMA yang masih menikmati masa-masa sweet seventennya memang tak jauh-jauh dari soal cowok.</p>
<p>Hari-hari berikutnya, kami jadi langganan Jeumpa_Net. Wajah kami jadi familiar bagi operator dan orang-orang yang sering ke Jeumpa_Net.</p>
<p>“Asyik keluyuran sampai sore…Pulang sekolah bukan pulang ke rumah, asyik pacaran ya?” kata salah seorang operator yang bertugas jaga hari itu.</p>
<p>“Enak saja menuduh orang asyik pacaran, kami pergi les, tahu? Ini baru pulang les, nongkrong sebentar di warnet,” kami tidak terima tuduhan operator itu.</p>
<p>Aku, Vika, dan Icha semakin lancar berselancar di dunia maya. Mereka sudah bisa buka internet satu ruang sendiri, tidak perlu ditemani lagi. Jadi kami tidak perlu berdesak-desakan lagi di ruang yang sempit. Kami masing-masing sudah memiliki alamat email.</p>
<p>Beberapa lama kemudian ruangan di Jeumpa_Net dirombak lagi menjadi lebih besar dan rapi. Warnet di kota kami mulai bertambah. Jeumpa_Net bukan lagi satu-satunya warnet. Biaya internetan di warnet pun semakin murah. Di lab komputer sekolah kami juga sudah bisa internetan. Hampir setiap jam istirahat atau jam kosong kami bertiga pergi ke lab komputer untuk internetan. Di semester terakhir, guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi mengajari kami menggunakan internet. Setiap orang diharuskan membuat alamat email. Beberapa temanku yang belum tahu sama sekali tentang internet memintaku untuk mengajari mereka. Dengan senang hati aku membantu mereka. Aku tidak mengalami kesulitan lagi saat belajar internet karena aku sudah memahami dasarnya. Itulah untungnya berada selangkah di depan.</p>
<p>“Kamu cepat bisa, ya?” kata salah seorang temanku padaku.</p>
<p>Aku tersenyum. Dalam hati aku berkata, “Ini kan duniaku, dunia maya. Masa’ sih aku tidak mengenal duniaku sendiri.”</p>
<p align="center">***</p>
<p>Kemajuan teknologi mengubah dinamika kehidupan, menjadikannya lebih berwarna dan tidak monoton. Setelah aku membuka kembali kotak memori tahun 2006, kutemukan sesuatu yang berbeda dari sekarang. Dulu aku hanya tahu Google dan Yahoo!. Seiring dengan bergulirnya waktu, aku mulai mengenal situs-situs lain, Yahoo! Messenger, friendster, blog, facebook, dan lain-lain. Bahkan, aku sering chating dengan orang luar negeri untuk melatih Bahasa Inggrisku. Ternyata dunia maya itu memang tak dapat diprediksi. Semakin diselami semakin dalam. Dunia tanpa batas.</p>
<p>Sekian</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=36&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/25/ulang-tahun-ke-11-detikcom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi-3/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 10:41:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung Senja Hembusan angin kering Membelai pucuk-pucuk ilalang Meniup debu-debu yang beterbangan Menembus celah-celah senja Goresan lembayung di langit jingga Menjadi lukisan darah dan air mata Tercium hawa leluhur Yang marah dan meronta Menyaksikan tubuh-tubuh kurus bergelimpangan Dimakan kekejaman masa Lembayung senja Menjadi kelabu Menyatu dalam raung durjana Merangkul tubuh yang bau tanah Kamboja berguguran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=34&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Lembayung Senja</strong></p>
<p>Hembusan angin kering</p>
<p>Membelai pucuk-pucuk ilalang</p>
<p>Meniup debu-debu yang beterbangan</p>
<p>Menembus celah-celah senja</p>
<p>Goresan lembayung di langit jingga</p>
<p>Menjadi lukisan darah dan air mata</p>
<p>Tercium hawa leluhur</p>
<p>Yang marah dan meronta</p>
<p>Menyaksikan tubuh-tubuh kurus bergelimpangan</p>
<p>Dimakan kekejaman masa</p>
<p>Lembayung senja</p>
<p>Menjadi kelabu</p>
<p>Menyatu dalam raung durjana</p>
<p>Merangkul tubuh yang bau tanah</p>
<p>Kamboja berguguran</p>
<p>Menghiasi rumput-rumput basah</p>
<p>Sisa gerimis siang tadi</p>
<p>Bunyi gemuruh di pelataran bukit</p>
<p>Mendendangkan sebuah nyanyian pilu</p>
<p>(Dimuat di Harian Aceh edisi Minggu, 7 juni 2009)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=34&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi-2/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 10:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Waktu Biarkan kubunuh waktu Sebelum ia membunuhku Seperti mereka yang telah terbunuh Tapi aku tak punya pedang Cukupkah berjuang dengan hati? Elegi tersaput dalam ruang waktu Bertahun-tahun terpendam dalam rawa duka Tak kering walau kemarau Karena luka telah mengaga Disayat pedang waktu Tangan najis manusia jahannam Biar habis dimakan serapah Hingga hilang bersama waktu Bersama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=32&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Waktu</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Biarkan kubunuh waktu</p>
<p>Sebelum ia membunuhku</p>
<p>Seperti mereka yang telah terbunuh</p>
<p>Tapi aku tak punya pedang</p>
<p>Cukupkah berjuang dengan hati?</p>
<p>Elegi tersaput dalam ruang waktu</p>
<p>Bertahun-tahun terpendam dalam rawa duka</p>
<p>Tak kering walau kemarau</p>
<p>Karena luka telah mengaga</p>
<p>Disayat pedang waktu</p>
<p>Tangan najis manusia jahannam</p>
<p>Biar habis dimakan serapah</p>
<p>Hingga hilang bersama waktu</p>
<p>Bersama dosa-dosa yang tersamar</p>
<p>(Dimuat di Harian Aceh edisi Minggu, 7 juni 2009)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=32&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 10:16:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Senandung Pilu Dinginnya malam memelukku Hatiku seperti hujan di luar sana Jiwa dan raga yang kedinginan Selimut kasih suci telah renta Lusuh, robek, dimakan usia Berselimutlah hati dengan nelangsa Mereka tertawa di atas tangisku Mereka bersorak saat Sang Izrail mengepak sayap Jiwa seputih kapas menyatu dengan awan Tawa mereka menelan tangis anak yatim dan janda-janda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=29&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Senandung Pilu</strong></p>
<p>Dinginnya malam memelukku</p>
<p>Hatiku seperti hujan di luar sana</p>
<p>Jiwa dan raga yang kedinginan</p>
<p>Selimut kasih suci telah renta</p>
<p>Lusuh, robek, dimakan usia</p>
<p>Berselimutlah hati dengan nelangsa</p>
<p>Mereka tertawa di atas tangisku</p>
<p>Mereka bersorak saat Sang Izrail mengepak sayap</p>
<p>Jiwa seputih kapas menyatu dengan awan</p>
<p>Tawa mereka menelan tangis anak yatim dan janda-janda</p>
<p>Hingga tak seorang pun yang mendengar senandung pilu itu</p>
<p>(Dimuat di Harian Aceh edisi Minggu, 23 Mei 2009)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=29&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/07/03/puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nisan</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/06/13/21/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/06/13/21/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 14:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/2009/06/13/21/</guid>
		<description><![CDATA[Nisan Di antara ilalang Nisan lusuh ditumbuhi lumut Terasing dan tak berdaya Nyiur di tepi pantai melambai Burung camar terbang di langit lazuardi Tinggallah senja dalam prahara Terus bingar sepanjang malam Dan nisan itu.. Masih kesepian tiada teman Membisikkan nyanyian sunyi pada ilalang yang bergoyang Pada senja yang garang Pada malam yang kelam Seonggak nisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=21&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Nisan</strong></p>
<p>Di antara ilalang</p>
<p>Nisan lusuh ditumbuhi lumut</p>
<p>Terasing dan tak berdaya</p>
<p>Nyiur di tepi pantai melambai</p>
<p>Burung camar terbang di langit lazuardi</p>
<p>Tinggallah senja dalam prahara</p>
<p>Terus bingar sepanjang malam</p>
<p>Dan nisan itu..</p>
<p>Masih kesepian tiada teman</p>
<p>Membisikkan nyanyian sunyi pada ilalang yang bergoyang</p>
<p>Pada senja yang garang</p>
<p>Pada malam yang kelam</p>
<p>Seonggak nisan tua</p>
<p>Tak terjamah oleh tangan</p>
<p>Ia terasing, jauh tak tergapai</p>
<p>Hanya ada bisik-bisik nyanyian sunyi</p>
<p>Yang memenuhi ruang malam</p>
<p>(Dimuat di Harian Aceh edisi Minggu, 23 Mei 2009)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=21&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/06/13/21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Memoar Tentang Telkomsel</title>
		<link>http://eramayawati.wordpress.com/2009/06/13/sebuah-memoar-tentang-telkomsel/</link>
		<comments>http://eramayawati.wordpress.com/2009/06/13/sebuah-memoar-tentang-telkomsel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 13:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eramayawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eramayawati.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Memoar Tentang Telkomsel Dulu HP itu barang mewah. Memiliki HP adalah kebutuhan tersier, hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya. Sekarang, hampir semua orang punya HP. Memiliki HP sudah menjadi kebutuhan sekunder, bahkan kebutuhan primer bagi sebagian orang. Aku ingat dulu aku baru diizinkan  menggunakan HP saat sudah duduk di bangku SMA, berbeda sekali dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=17&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img class="alignnone" title="Polling Blogger Favorit" src="http://i82.photobucket.com/albums/j256/graparinad/vote-blog.jpg" alt="" width="229" height="142" /></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Sebuah Memoar Tentang Telkomsel</strong></p>
<p>Dulu HP itu barang mewah. Memiliki HP adalah kebutuhan tersier, hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya. Sekarang, hampir semua orang punya HP. Memiliki HP sudah menjadi kebutuhan sekunder, bahkan kebutuhan primer bagi sebagian orang. Aku ingat dulu aku baru diizinkan  menggunakan HP saat sudah duduk di bangku SMA, berbeda sekali dengan dengan anak-anak sekarang yang sudah mengenal HP sejak SD, bahkan mungkin sebelum masuk sekolah. Setelah punya HP, yang pertama sekali kukenal adalah Telkomsel. Aku yang berdomisili di Bireuen dibelikan HP saat liburan ke Banda Aceh. Adik Bunda yang kupanggil Acut yang memilihkan HP sekaligus kartu perdana untukku. Acut yang telah tiada karena bencana tsunami 2004 lalu──aku sedih jika mengenangnya──bisa dikatakan Oom yang paling baik terhadap keluargaku. Aku dan Bunda yang belum banyak tahu tentang HP minta bantuan Acut untuk menemani kami beli HP.</p>
<p>“Bagusnya pakai kartu simPATI saja!” saran Acut kala itu.</p>
<p>Apa saja bolehlah, pikirku. Asal bisa nelpon dan smsan. Pikiran yang sangat simpel untuk seseorang yang masih kurang pengetahuan tentang alat komunikasi yang bernama HP itu. Aku dibelikan sebuah HP Nokia 3100 dan kartu perdana simPATI. Kartu perdananya nomor cantik dengan harga RP 50.000, cukup mahal jika dibandingkan dengan sekarang yang hanya perlu mengeluarkan uang sepuluh ribu saja. Aku senang sekali punya HP baru. Sepulang dari toko, kusms saudara-saudara dan teman-temanku untuk memberitahukan nomor HP-ku. Sekarang aku tidak perlu iri lagi melihat kakak sepupuku sibuk dengan HP-nya. Jujur saja, kadang-kadang aku iri juga melihat kakak sepupuku sibuk dengan HP-nya atau ketika mendengar ibunya bercerita tentang HP anaknya. Paling tidak, dengan hadirnya HP-ku itu membuktikan bahwa kami bukan orang yang tidak sanggup beli HP. Narsis.</p>
<p>Sama seperti halnya aku, kakak sepupuku juga memakai kartu simPATI. Sayangnya, sinyal Telkomsel di rumahnya tidak terlalu bagus, kadang-kadang sama sekali tidak ada sinyal. Sebagai solusinya, mereka berinisiatif naik gunung di belakang rumah mereka untuk mencari sinyal. Di tempat yang tinggi seperti itu baru bisa menikmati jaringan Telkomsel dengan lebih leluasa. Aku pernah ikut mereka naik gunung, berkali-kali aku terpeleset . Aduh…susahnya mencari sinyal, harus <em>naik-naik ke puncak gunung. </em>Selain itu, kakak sepupuku malas banget balas sms aku, kecuali kalau untuk hal yang penting sekali, karena tarif smsnya yang mahal. Bukan hanya kakak sepupuku, orang lain juga begitu, bahkan aku juga. Sekali sms Rp 350 melayang. Sayang banget deh rasanya keluarin pulsa.</p>
<p>Aku bertahan dengan kartu simPATI selama tiga tahun. Kuhabiskan masa-masa indahku di SMA bersama simPATI. Selama tiga tahun aku setia pada simPATI, meskipun teman-temanku banyak yang menggunakan Kartu As. Kata mereka simPATI tarifnya mahal. Tahu mengapa aku tetap bertahan dengan simPATI? Karena aku sayang nomor cantikku dan aku tidak tega membuang kartu kenang-kenangan dari Acut yang telah tiada. Tapi karena tarif simPATI tak turun-turun sementara Kartu As terus meluncurkan tarif-tarif baru yang semakin murah, akhirnya aku tergiur juga untuk beralih ke Kartu As. Pasalnya, aku harus lebih berhemat setelah jadi mahasiswa di perantauan. Namun, itu bukan berarti aku melupakan kartu simPATI-ku begitu saja. Sebelum masa isi ulang berakhir, aku selalu mengisi ulang pulsa simPATI-ku agar kartu itu tetap bisa digunakan. Sayangnya, suatu kali aku lupa mengisi ulang pulsa simPATI-ku. Kartu simPATI itu pun tak bisa digunakan lagi. Aku sedih juga harus merelakan kepergiannya, merelakan bukti memoar tentang Acut yang satu itu menghilang.</p>
<p>Setelah itu, simPATI pun mulai bersaing dengan yang lain untuk menurunkan tarif, meski mungkin belum semurah Kartu As. Sayang aku tidak punya simPATI lagi. Aku bisa saja beli kartu baru, toh harga kartu perdana sekarang sudah beberapa kali lebih murah dari dulu, tapi rasanya tak akan sama lagi. Kartuku yang pertama, kartuku yang kusayang, sudah tak ada lagi. Mungkin hal itu identik seperti kata orang bahwa cinta pertama adalah cinta yang sangat berkesan dan susah dilupakan. Jadi kartu pertama adalah kartu yang paling berkesan? Bisa jadi.</p>
<p>Aku pernah merasa kecewa dengan layanan Telkomsel ketika aku memasang Nada Sambung Pribadi (NSP). NSP yang katanya akan aktif dalam waktu 1×24 jam tak pernah aktif. Kuhubungi operator 116 untuk mengutarakan masalah tersebut setelah menunggu 1×24 jam. Lalu operator mengatakan aku harus menunggu lagi selama 2×24 jam. Kucoba untuk bersabar 2×24 jam lagi. Tapi setelah 2×24 jam, NSP-ku belum aktif juga. Kembali kuhubungi operator. Aku disuruh menunggu selama seminggu, jika NSP-nya tidak aktif dalam waktu seminggu pulsaku akan dikembalikan. Seminggu? Bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Bukankah menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan? Tapi ya mau bagaimana lagi. Terpaksa kutunggu selama seminggu. Berkali-kali kuhubungi operator pun aku tak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Alhasil, buah kekecewaan itu masak sudah. NSP-ku tak pernah aktif dan pulsaku tidak dikembalikan.</p>
<p>Seiring bergulirnya waktu, layanan Telkomsel semakin bagus. Tarif semakin murah dan jaringannya pun semakin luas. Tidak perlu naik gunung lagi untuk mendapatkan sinyal. Dimana saja sudah ada sinyal. Orang-orang menjadi tidak pelit lagi untuk balas sms atau nelpon. Apalagi baru-baru ini Kartu As meluncurkan tarif murah serba Rp 1000. Puas smsan pulsa cuma terpotong seribu. Dimana-mana orang jadi keranjingan smsan dan nelpon. Sampai-sampai HP-nya dibawa tidur bersama. Komunikasi pun jadi semakin lancar.</p>
<p>Tapi ada satu hal yang membuatku heran. Menghubungi operator 116 kok semakin ribet ya? Aku pernah kebingungan harus tekan apa untuk bisa berbicara dengan operator. Kalau ribet begitu pelanggan jadi agak malas menghubungi operator. Mungkin selama ini operatornya terlalu sering disibukkan oleh banyaknya pelanggan yang minta informasi sehingga dibuatlah sistem yang sedikit ribet agar hanya orang-orang yang benar-benar membutuhkan informasi saja yang menghubungi operator. Soalnya, menurut pengalamanku selama ini, banyak teman-temanku yang sekedar iseng-iseng menelepon operator, bahkan aku juga pernah menelepon operator hanya untuk mencoba berbicara dengan bahasa inggris, meskipun bahasa inggrisku rada-rada hancur. Ah, dasar iseng!</p>
<p>Zaman teknologi semakin canggih. Telkomsel juga semakin maju. Di samping tarif yang murah dan jaringan yang telah meluas, Telkomsel juga telah meluncurkan BlackBerry. BlackBerry memiliki beberapa keunggulan yang membuat penggunanya betah menggunakannya, di antaranya yaitu menu aplikasi BlackBerry sangat simple, bagus dalam hal fungsi keamanan, dan kualitas konektivitas yang tinggi. Pertama kali aku mendengar nama BlackBerry aku berpikir apa itu BlackBerry? Kok namanya seperti nama buah, blueberry? Kata seorang temanku, ia membayangkan bahwa HP BlackBerry itu warnanya seperti warna buah, warna-warni, atau pink, atau mungkin mirip strawberry. Sebaliknya, menurutku warnanya hitam semua. Pemikiran yang sungguh unik. Katanya BlackBerry itu canggih. Sayangnya, aku masih harus bertahan bersama HP Nokia 3100-ku yang telah menemaniku selama lima tahun. HP yang sangat simpel dan tidak mudah rusak kalau jatuh. Kapan aku bisa punya HP canggih? Yah, mungkin suatu saat nanti… Mungkin nanti aku bisa punya 3G, BlackBerry, atau apa sajalah namanya. Itu tak terlalu penting untuk dipikirkan. Yang terpenting adalah komunikasi tidak terputus dan tidak menjadi orang yang GAPTEK. Seperti Telkomsel yang telah berusia 14 tahun dan terus melangkah ke depan, aku juga akan terus melangkah ke depan. Semoga saja waktu yang bergulir merajut memoar yang lebih indah lagi tentang Telkomsel. Semoga kesalahan-kesalahan di masa silam tidak terulang lagi dan Telkomsel bisa beelajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. OK, Telkomsel… ayo kita terus berjalan, menyongsong hari esok yang lebih baik. Let’s go!</p>
<p>SEKIAN</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 579px"><img title="Telkomsel Blogging Competition" src="http://i82.photobucket.com/albums/j256/graparinad/banner-wr.jpg" alt="Telkomsel Blogging Competition" width="569" height="133" /><p class="wp-caption-text">Telkomsel Blogging Competition</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eramayawati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eramayawati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eramayawati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eramayawati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eramayawati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eramayawati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eramayawati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eramayawati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eramayawati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eramayawati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eramayawati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eramayawati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eramayawati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eramayawati.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eramayawati.wordpress.com&amp;blog=7626367&amp;post=17&amp;subd=eramayawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eramayawati.wordpress.com/2009/06/13/sebuah-memoar-tentang-telkomsel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec8f027038ad030d7f051d4cee3870e8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eramayawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i82.photobucket.com/albums/j256/graparinad/vote-blog.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Polling Blogger Favorit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i82.photobucket.com/albums/j256/graparinad/banner-wr.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Telkomsel Blogging Competition</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
